Keseimbangan Bisnis-Keluarga

ADJI W Wardojo (46), mantan bankir, sukses membangun bisnis bengkel di kawasan BSD, Serpong. Dia meniti bisnis di permukiman yang sedang berkembang pesat itu sejak tahun 2007. Bengkel bukan bisnis pertama saya. Sebelumnya, saya pernah memiliki usaha travel dan ticketing, salon khusus wanita, dan barbershop, tapi dengan berjalannya waktu saya memilih untuk konsentrasi pada usaha bengkel, ujar Adji Wardojo, pemilik bengkel Premier Auto Spa kepada Warta Kota, belum lama ini.

Adji mengaku sengaja mengistirahatkan bisnis lainnya bukan karena usahanya merugi. Sebenarnya usaha-usaha itu secara operasional nggak rugi, hanya nggak berkembang. Saya memilih fokus mengembangkan bisnis bengkel, sambil membangun sistemnya. Kalau sistemnya sudah jalan, baru saya lanjutkan ke bisnis lainnya, ujar Adji ketika ditemui di kantornya di Jalan Rawa Buntu 1000, Serpong.

Jalan Rawa Buntu merupakan jalan yang padat sehingga strategis untuk bengkel. Peluang bisnis bengkel di BSD gemuk. Meski jumlah bengkel semakin banyak pasarnya tetap menggiurkan. Jumlah mobilnya banyak, daya beli relatif tinggi. Makanya sejak awal kami membidik pasar menengah atas, katanya.

BSD merupakan salah satu kawasan yang memiliki pertumbuhan infrastruktur dan pertambahan penduduk paling dinamis di Indonesia. Tidak heran bila harga tanahnya juga bergerak cepat. Tanah di Jalan Rawa Buntu, menurut agen properti, sudah mencapai Rp 5 juta per meter persegi. Padahal waktu beli tanah ini baru sekitar Rp 2,9 juta per meter persegi, kata Adji.

Menurut Adji, bengkel Premier Auto Spa dengan luas 1000 M2 miliknya sedang dalam tahap pengembangan untuk memberi layanan one stop service. Insya Allah akhir 2010. bengkel barunyasudah beroperasi, ujar Adji.

Adji mengatakan, saat ini bengkelnya melayani sekitar 30 sampai 50 mobil per hari, dengan jam buka pukul 08.00 sampai pukul 17.00. Kami sedang mempertimbangkan buka hingga malam, tambah bos yang menaungi 18 karyawan.

Hidup seimbang

Adji baru berani resign dari tempatnya bekerja di sebuah bank asing di Jakarta pada tahun 2005. Padahal, jabatannya kala itu adalah Assistant Vice President.

Keputusan untuk resign juga dipicu oleh semakin tinggi jabatannya, semakin sibuk kerjanya. Itu berarti semakin sedikit waktunya untuk keluarga. Padahal prinsip saya, hidup harus seimbang. Punya waktu untuk bekerja, keluarga sekaligus untuk beribadah, ujarnya.

Hal itulah yang mendorongnya keluar dari comfort zone dan memiliki bisnis sendiri. Saya menyadari untuk mencapai hasil maksimal tidak mungkin beradadi dua kuadran yang berbeda (karyawan dan pengusaha-Red), tentu saya perlu mempersiapkan diri secara mental maupun finansial sebelum memutuskan resign, kata pria kelahiran Bogor ini.

Untuk membangun aset Adji mulai menginvestasikan uangnya dalam saham maupun properti. Lima tahun sebelum resign saya sudah mulai investasi properti. Mulai buka usaha travel dengan menggandeng orang berpengalaman di bidang tersebut, kata Adji yang pernah 15 tahun bekerja di bank asing.

Setelah merasa siap, dan mendapat dukungan keluarga, dia tidak ragu lagi untuk resign di usia 40 tahun. Sebab, bekerja di bank menyita waktu saya. Saya berangkat jam 06.00 pulang sampai di rumah jam 22.00. Kadang sampai jam 23.00, jelas Adji.

Menurut Adji, sebelum memiliki bengkel di Jalan Rawa Buntu, dia sudah punya bengkel franchise. Tapi, usaha franchise itu tak bertahan lama karena ada konflik dengan mitra usahanya. Lalu dia memutuskan menjual sahamnya.

Adji kemudian membangun usaha bengkel lain dengan mitra barunya. Pilihannya Jatuh dengan mengakuisi sebuah bengkel yang sudah tutup di Jalan- Rawa Buntu itu dengan harga Rp 450 juta. Kami beli bengkel yang sudah tidak beroperasi lagi tapi masih ada peralatan dan tenaga kerjanya. Bengkel ini ditutup karena mismanajemen. Kami merapikan manajemennya agar bisa jalan lagi, karena pasarnya sudah ada, ujarnya.

Kasus itu makin menguatkan keyakinan Adji bahwa membangun bisnis sama dengan merawat bayi. Kita harus merawatnya dengan penuh kasih sayang sampai dia bisa jalan. Kalau sudah dewasa baru bisa dilepas. Sayangnya, masih banyak orang salah kaprah. Mereka pikir setelah beli bisnis bisa langsung duduk manis. Maka tidak heran banyak bisnis bangkrut karena mismanajemen alias salah urus, kata Adji, (hes)

Sumber :

http://bataviase.co.id/node/321083