Gagal Maning Gagal Maning (Cerita Kegagalan Membawa Hikmah)

Saya tidak pernah share kegagalan, namun hanya di milist TDA saya berani share kegagalan-2 saya, trims pak Roni yang sudah memfasilitasinya di milist ini :

Pada saat saya mampir bersilaturrahmi ke kantor H. Alay di Tanah Abang saya mendapatkan cerita bahwa orang yang biasa berselancar dengan ganasnya ombak, maka dia akan tahu lika-liku dan terbiasa dengan ganasnya ombak di lautan luas.

Jadi kita akan terbiasa dengan ganasnya dunia bisnis jika kita sudah terjun dan menekuninya, lama-kelamaan kita akan menemukan karakter kita dalam berbisnis.

Pengalaman kegagalan saya dalam berbisnis berbenturan keras dengan restu orang tua. Setelah lulus kuliah saya berbisnis lukisan kaca dan sudah mulai jalan, karena bapak tidak merestuinya maka usaha tersebut saya tinggalkan, bapak saya bertipikal otoriter, kemaunnya harus dituruti. Kemudian berbisnis pulsa sudah mulai berjalan tanpa pemberitahuan juga diambil alih oleh bapak mertua, sakit rasanya sih tapi tidak bisa berbuat banyak, hampir sama tipikalnya bapak mertua saya juga otoriter, hingga saatnya tiba bapak mertuaku di tegur olehNya rugi ratusan juta karena ditipu oleh rekan bisnisnya, saya mengambil hikmah disini. Dan pernah bisnis sandal bogor juga gagal begitu saja.

Dan terakhir masih hangat ketika saya akan menjadi konsultan bisnis fashion sebuah bisnis fashion online ditolak mentah-mentah oleh restu Ibu, sampai saya harus kelimpungan semalaman tidak bisa tidur bagaimana caranya menyampaikan mundur dari konsultan bisnis online tersebut, karena sebelumnya ibu merestuinya namun tiba-2 merubah jadi tidak merestuinya.

Ketika saya bekerja menjadi profesional di beberapa perusahaan nasional mendapatkan restu dari orang tua, walau harus bertugas jauh sering keliling Indonesia hingga menetap di China dan Hongkong.

Kesuksesan saya di dunia profesional tidak mendatangkan kebahagian yang lepas tetap saja saya merasa tertekan dan ada yang kurang, lalu haruskah saya berhenti mengejar mimpi menjadi seorang pengusaha, *sampai akhirnya tiba waktunya saya benar-benar mendapatkan restu dari Ibu untuk resign menjadi pengusaha (Full TDA*) dan saya mengambil hikmahnya dari kejadian jatuh bangunnya mengelola usaha milik orang sebagai bekal mengelola usaha  sendiri.

Itulah alasan saya menulis tulisan di bawah ini dan untungnya saya lebih suka tersenyum hadapi hambatan-2 itu :*

Jika keluarga kita justru yang menjadi penghambat / peredup mimpi (cita-2) kita, maka sekurangnya ada beberapa langkah-2 yang bisa kita lakukan adalah
1. Kuatkan dan tingkatkan terus daya tahan mental (jangan sampai demotivasi dan kehilangan fokus). 2. Yakinkan terus dengan pembuktian
hasil. 3. Jangan dilibatkan saat diskusi dalam menyelesaikan masalah (hambatan) yang berkaitan dengan mimpi (cita-2) kita, kalau aku mengikuti komunitas bisnis sehingga bisa berdiskusi dengan sobat-2 yang passionnya sama. 4. Tetap minta doa restu namun setelah
sukses, pasti direstui apalagi sambil ngasih hadiah yang nilainya tepat dan pada saat yang tepat, he he he.

Ide berbisnis dengan pasangan memang bagus jika pasangan kita juga mempunyai passion bisnis juga, namun tidak semua pasangan juga mau
berbisnis karena passionnya bisa saja ingin menjadi ibu rumah tangga, karyawan atau PNS. Yang paling tidak ringan adalah ketika orang tua  kita sendiri yang berbeda pola pikir dan passion, itu pasti berbeda dengan sobat-2 yang lahir dari orang tua yang passionnya adalah pengusaha.

Dalam menggapai mimpi (cita-2) untuk sebagian orang akan menemukan banyak hambatan internal dan eksternal, tetap saja kuncinya adalah daya tahan mental dan tidak mudah kehilangan fokus dalam menggapai mimpi (cita-2). Hambatannya bisa berbentuk dicemooh dan dihina keluarga sendiri, dari orang lain dan situasi yang rumit.

Aku beberapa kali mendapatkan cemoohan dan hinaan dalam menggapai mimpi (cita-2) terutama saat memulai dari bawah. Memang rasanya sakit, namun jika kita mampu merubah rasa sakit hati menjadi semangat maka kita bisa sukses meraih mimpi (cita-2) kita, termasuk ketrampilan merubah situasi sulit menjadi peluang.

Silahkan pelajari konsep Adversity Quotient (kecerdasan daya tahan mental) bagaimana merubah masalah menjadi peluang dan pelajari juga Emotion Quotient dan Spiritual Quotient agar kita sadar bahwa emosi hanyalah sebuah sinyal bukan respon akhir dari suatu stimulus. Dan emosi bukan hanya sekedar rasa MARAH, ada ratusan jenis emosi. Sebab yang beredar di masyarakat kita sering menyebut kalau orang lagi MARAH berati dia sedang EMOSI, padahal jumlah emosi sangat banyak loh.

Tingkatkan daya tahan mental dan jangan sampai kehilangan fokus mimpi (cita-2). Salam SuksesMulia.

Salam SuksesMulia,
@AdibMunajib
0888-987-8989
http://www.mastermindtegal.com