DIDI DIARSA, Sukses Ubah Limbah Peti Kemas jadi Furniture Berkelas

Sejak duduk di bangku kuliah, Didi Diarsa sudah mencintai lingkungan. Lulusan Fakultas Geografi Universitas Negeri Jakarta yang kemudian berprofesi sebagai guru ini, termasuk beruntung. Ia berkesempatan menjadi salah satu peserta Konferensi Guru Asia-Eropa di Finlandia. Dari sinilah wawasan Didi makin terbuka untuk terus melestarikan lingkungan.

Di Finlandia ia melihat kayu dijadikan furniture untuk bangku di ruang-ruang sekolah, instansi pemerintah dan swasta. Kayu juga menjadi aset negara yang harus terus dilestarikan keberadaannya. Melihat furniture kayu mendominasi ruang kantor dan sekolah itu, Didi jadi teringat kekayaan alam Indonesia, khususnya kayu.

Saat itu ia langsung terpikir, bilamana Indonesia bisa mengikuti jejak Finlandia, yakni menjadikan kayu sebagai furniture di berbagai sekolah dan instansi, tapi tetap juga melestarikan hutannya. Namun ia tersadar, furniture yang ada di Indonesia umumnya terbuat dari kayu-kayu yang kokoh, seperti kayu jati, yang sumbernya tidak jelas berasal dari hutan yang mana. Sementara di Eropa, setiap furniture yang berasal dari bahan kayu, wajib menyertakan barcode, lengkap dengan keterangan asal kayu, tahun, dan kapan penebangannya. Kayu-kayu yang ditebang adalah yang usianya 3 ampai 5 tahunan.

Selesai menebang, mereka menanam lagi sehingga hutan mereka bertambah luas. Sangat jauh perbandingannya dengan hutan di Indonesia yang justru semakin berkurang akibat perambahan hutan. Masyarakat Finlandia beranggapan kayu adalah mahluk hidup yang memiliki nyawa, memberikan kehangatan dan aura positif. Oleh karena itu tak heran furniture kayu mendominasi banyak ruang di Finladia.

Pulang ke Indonesia, Didi pun segera berniat berbisnis furniture kayu. Tapi ia tidak ingin terlibat dengan kayu yang sumbernya tidak jelas. Dari sinilah ia mulai berkreasi dengan bahan kayu limbah bekas peti kemas. Kebetulan, di dekat tempat tinggalnya di Depok, banyak perusahaan yang punya limbah peti kemas bekas kemasan barang-barang impor, seperti mobil, obat, dan lainnya.

Setelah diamati, ternyata kayu-kayu itu sama seperti yang ia jumpai pada furniture di Finlandia. Sejenis kayu pinus namun dengan serat yang berbeda. Serat kayu bekas peti kemas yang indah tadi lalu menantang Didi untuk menjadikannya aneka kerajinan, dari furniture rumah tangga dan fasilitas sekolah, dengan kualias dan desain yang beda dari yang sudah pernah ada sebelumnya. Didi mengawali produksinya dengan membuat kitchen set untuk rumah pribadinya. Ia sengaja menggandeng tukang kayu untuk pengerjaannya, karena memang tidak memiliki keahlian di bidang pertukangan.

Rupanya, produk pertama tadi dilirik teman-temannya yang datang ke rumahnya. Selanjutnya bisa ditebak, keindahan serat kayu setelah ditonjolkan dengan vernis, menarik minat teman-teman Didi untuk memesan produk serupa. Karya-karya Didi di tahun 2009 itulah yang lantas mengantarkan dirinya menjadi finalis International Young Creative Entrepreneur British Council.

Wawasan bisnis dan kreativitas Didi semakin terasah saat ia bergabung dengan komunitas Tangan di Atas, sebuah komunitas paraentrepreneur muda Indonesia. Banyak kenalan, terbuka wawasan, dan kualitas produk yang baik, menjadi poin penting bagi dirinya untuk menggaet order lebih banyak.

Tak cuma membuat perabotan rumah, ia juga mendesain bangku-bangku dan rak untuk sekolah dengan desain modern-minimalis, dengan harapan ruangan jadi lebih terbuka, tidak kaku seperti bangku kelas zaman dulu. Awalnya yang membeli tentu hanya satu sekolah saja. Tapi sekarang pelanggannya sudah bertambah banyak, umumnya dari sekolah swasta. Mereka memesan meja-kursi untuk ruang kelas, rak untuk perpustakaan, dan keperluan sekolah lainnya.

Lantaran pesanan makin beragam, Didi mulai membagi pesanannya menjadi dua musim. Januari hingga Juni ia fokus mengerjakan produk untuk sekolah. Juni sampai Desember ia khusus membuat produk rumah tangga. Ada kitchen set, tempat tidur, lemari, atau keperluan rumah tangga lainnya. Pelanggannya kebanyakan kaum terpelajar yang sudah sadar akan nilai pelestarian lingkungan juga seni untuk mempercantik ruangan.

Diakui Didi, kini semakin banyak pemain yang berbisnis furniture dengan material bekas peti kemas. Karenanya, saat ini materinya semakin sulit dicari. Tapi ia yakin, sepanjang orang Eropa masih mengirim barang ke Indonesia memakai kemasan kayu serupa, bahan baku akan tetap ada.

Terbatasnya bahan baku akibat diminati banyak orang itu, lantas mengubah cara berpikir Didi. Kini ia mulai menjadikan kayu peti kemas menjadi benda-benda seni. Ia pun saat ini turut membuat berbagai produk art seperti kap lampu yang nilai dan harganya lebih tinggi. Pengerjaannya pun juga lebih cepat, dan belum banyak pemain yang membuat produk sejenis.

Didi memberi gambaran, dari 100 batang kayu yang hanya bisa jadi dua buah lemari yang harganya sekitar Rp 3 jutaan. Tapi dengan 200 batang kayu, bila diberi sentuhan art, diberi nilai lebih, kayu sebanyak itu bisa menjadi 500 buahtable lamp. Harganya rata-rata Rp 200 ribuan. Jadi perolehannya bisa di atas Rp 10 juta lebih. Ada pertambahan nilai di situ.

Inspirasi itu Didi dapatkan dari seorang pria bernama Singgih, pengusaha radio kayu dari Temanggung, Jawa Tengah. Yang hanya dengan menggunakan 80 pohon per tahun, bisa menghidupi kepala keluarga. Hal itulah yang ingin coba Didi terapkan di industri kreatif miliknya. Intinya, dengan menambah nilai pada kayu, bisa bermanfaat untuk banyak hal.

Sejauh ini produk Aktiv Furniture, merek yang diberikan Didi pada produknya, sebagian sudah sampai ke luar negeri lantaran ia juga menjualnya via online. Tapi kebanyakan peminat produknya memang masih masyarakat lokal. Karena kelas menengah Indonesia sudah mulai tumbuh, penghargaan terhadap alam, desain, dan pelestarian lingkungan sudah semakin baik.

Ke depan Didi akan mulai memadukan material lain dengan kayu bekas peti kemas yang saat ini masih mendominasi produknya. Misalnya, ia ingin membuat table lamp cover dari kulit buah gambas, atau menggunakan bambu untuk produk-produk lain.