Kopdar Kuliner #2 : Menembus Retail Modern

Sabtu, 14 September 2013 kemarin, telah terlaksana kopdar (kopi darat) klub kuliner di rumah Nia Nabatee. Pagi itu, rumah asri yang terletak di Jl. Gandaria 1a Serua Bojong Sari Depok itu telah sibuk dengan hadirnya peserta kopdar kuliner yang direncanakan dimulai pukul 9 pagi. Acara kali ini dihadiri tak kurang dari 20 peserta dengan didominasi muka-muka baru meski terlihat beberapa muka lawas yang konsisten hadir. Tips sukses menembus pasar modern bagi UKM menjadi tema Kopdar kali ini dengan Bintang Tamu Ibu Nasta dari Retail Modern.

Diawali dengan sharing diantara para peserta yang hadir, acara berlanjut ke Mbak Rinda selaku Ketua Klub Kuliner Depok yang membagikan form pendaftaran pengajuan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga ) yang programnya akan dilaksanakan di bulan Oktober secara gratis. Rinda menjelasakan bahwa ada yang berbeda dari pengajuan tahun ini, salah satu syaratnya adalah melampirkan SKU (Surat Keterangan Usaha) dari Puskesmas. Biasanya cukup dari Kelurahan, sekarang DinKes (Dinas Kesehatan) Depok minta ada survey dari Puskesmas untuk keluarnya SKU tersebut.

Rinda menambahkan, ternyata beberapa peserta yang hadir tidak memungkinkan untuk mengikuti program ini, karena memang jenis produknya di luar kewenangan DinKes, jadi harus mengurus ke BPPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan). “Jadi untuk produk-produk susu dan turunannya, daging dan turunannya, serta AMDK (air minum dalam kemasan) memang harus standard BPPOM. Sedang pemilik rumah makan atau yang produknya makanan/ minuman siap saji bisa mengajukan ijin Layak Sehat ke DinKes namun bukan PIRT” papar Rinda menegaskan.

Sesi terakhir di isi sharing info oleh Ibu Nasta narasumber dari retail modern. Beliau yang telah kenyang dengan pengalaman selama belasan tahun di purchasing/ merchandising retail modern, mengatakan bahwa pemerintah saat ini sdh byk mengeluarkan peraturan yang mengharuskan retail modern membantu UKM dan produknya. Jadi kesempatan saat ini terbuka lebar bagi teman-teman untuk memasukkan penawaran produk ke berbagai retail modern.

Nasta pun mengingatkan bahwa kelemahan UKM Indonesia yaitu inkonsistensi, UKM sering tidak konsisten dengan kualitas produknya, tidak konsisten dengan jumlah pasokan produknya dan juga kemasan yang harus diperbaiki dari sisi kualitas maupun desain. “Selain itu kita juga harus mencermati kontrak perjanjian dengan retail modern sebelum menandatangani kontrak perjanjian dan pada umumnya harus mau bernegosiasi untuk beberapa term seperti jangka waktu pembayaran dan juga beberapa fee yang ditetapkan” jelasnya.

Nasta juga me-review produk peserta yang hadir sehingga sangat berkesan dan bermanfaat, diharapkan dapat menjadi semangat untuk meningkatkan kualitas masing-masing produknya. Waktu menunjukkan pukul 2 siang ketika kopdar kuliner kali ini harus usai. Dengan makan siang bersama diselingi ramah tamah antar peserta dan pembicara maka ditutuplah Kopdar Klub Kuliner Depok kali ini. Sampai jumpa dengan Kopdar Kuliner Depok selanjutnya.