Sukses Bukan Kunci Bahagia

[ad_1]

Sukses bukan kunci bahagia. Tapi justru sebaliknya, bahagialah kunci kesuksesan.

Itu poin pertama yang saya tangkap saat mendengar sharing dari pak Haidar Baigar, pendiri Penerbit Mizan dan Yayasan Sekolah Lazuardi, pada sebuah perhelatan bisnis akhir pekan kemarin.

Pak Haidar menampilkan dalam slide-nya beberapa foto tokoh yang sukses, kaya dan populer, tapi mengakhiri hidupnya secara tragis, seperti raja pop, Michael Jackson, aktor kawakan, Robin Williams, dan aktor muda berbakat serial Glee, Cory Monteith.

Pada satu titik, betul ternyata apa yang dikatakan quote “Money can’t buy happiness”. Karena di Amerika pernah dilakukan penelitian, ternyata uang berkontribusi langsung pada kebahagiaan hanya dalam batas jumlah tertentu. Setelah batas tersebut, uang tidak lagi berkontribusi dalam kebahagiaan seseorang. Batas penghasilan tersebut adalah $75.000 per tahun (cek di artikel ini). Di Indonesia sepertinya belum ada penelitian sejenis.

Kalau bukan uang, lalu apa dong kunci bahagia itu?

Salah satu yang disampaikan Pak Haidar adalah berusaha menerapkan 10 positive emotion, hasil riset yang dilakukan Dr. Barbara Frederickson. Yang jika disimpulkan mengerucut menjadi sikap altruisme, selalu berusaha berbuat baik kepada orang lain. Orang yang hidupnya berfokus untuk berbuat kepada orang lain, niscaya dia akan bahagia, tidak perduli berapa besar uang yang ia miliki.

Karena sebenarnya sukses itu ada 3 jenis:

  • Bitter Success, sukses yang mendatangkan kegetiran kepada diri pelakunya. Sangat mungkin mengakibatkan depresi. Jika depresi ini semakin parah, sangat bisa berujung pada suicide, seperti contoh tokoh-tokoh di atas.
  • Toxic Success, sukses yang menyengsarakan orang lain. Ini lebih parah dari sukses jenis pertama. Contohnya, sukses tapi mengambil hak orang lain, menilep uang rakyat dan negara.
  • Meaningful Success, sukses yang bermakna, yang bermanfaat untuk orang lain. Inilah yang sebenar-benar sukses.

.

Depok, 12 Maret 2017

[ad_2]

Source link