Bagaimana Keterampilan Online Membantu Penjualan Toko yang Sepi?

[ad_1]

Di era digital, generasi milenial yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk berselancar di media sosial tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Media sosial bukan lagi menjadi platform yang hanya digunakan untuk sekedar bergosip ria atau bersenang-senang, melainkan menjadi ladang pundi-pundi yang menguntungkan.

Ini adalah kisah dari salah satu pedagang Tanah Abang sekaligus anggota baru SB1M, Kevin Lamark yang mengisi salah satu sesi kelas SB1M Jakarta (28/10/16) lalu. Kisah Kevin menjadi salah satu testimoni menarik di SB1M, karena di tengah lesunya penjualan, ia mencoba bangkit lagi dengan mencoba strategi jualan online.

Gak tau ya, saya merasa akhir-akhir ini, ekonomi melemah, jadi dagangan sepi, sampai bosen di toko. Memang yang saya tahu di tanah abang sendiri, banyak pemain online juga di lantai atas Blok B, “katanya lewat rekaman  channel official Youtube SB1M.

Ia melihat sendiri betapa ramainya para pedagang yang jualan di sana, karena paket pengirimannya bisa segunung 🙂  Akhirnya, dia mulai belajar cara jualan online, bahkan sebelum kenal dengan SB1M sendiri. Ia mulai membuat website, belajar SEO, dan cara iklan yang benar di sosial media, salah satunya mencoba FB ads yang boost post.

Budget dari mulai 300-500 ribu ya, yah lumayan deh orderan mulai kenceng lagi, kadang budget saya turunin juga, karena saya dan CS gak sanggup nanggepin semua chat yang masuk. Makanya, sekarang lagi mau tambah CS lagi,”katanya.

Selain, memahami strategi beriklan dan promosi yang benar, Kevin juga mengingatkan kualitas produk dan pelayanan yang baik, agar konsumen merasa nyaman.

Penurunan omset

pasar tanah abang

Ternyata, Kevin memang bukan satu-satunya pedagang Tanah Abang yang mengeluhkan penurunan penjualan di toko sejak tahun lalu. Baru-baru ini, hampir semua pedagang di Tanah Abang mengeluhkan kondisi penjualan, bahkan penurunannya ditaksir lebih parah dibanding tahun lalu. Bahkan, ada pedagang yang mengaku, omset turun sampai Rp6 juta sehari.

Dikutip dari situs berita detikfinance (4/4/17) lalu, Ketua Tim Ahli Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno mengatakan, kondisi sejumlah ritel secara umum memang mengalami kelesuan setiap tahunnya, terutama untuk kebutuhan sekunder.

Meski begitu, ia menilai, bahwa sebetulnya maraknya toko dan transaksi online saat ini belum menggerus eksistensi toko konvensional. Menurutnya, masing-masing ada segmennya, kalau transaksi online itu lebih pada segmen yang sudah melek teknologi dan kelas menengah atas.

Namun, Sutrisno juga mengingatkan agar para pedagang lebih terbuka dengan perkembangan zaman, dan jangan terlalu nyaman dengan kondisi yang ada, karena bisa saja teknologi akan menggeser tren belanja masyarakat lebih besar ke depan.

[ad_2]

Source link